Negeri Diatas Awan Gundul, Jadi Banjir Diatas Awan

Negeri Diatas Awan Gundul, Jadi Banjir Diatas Awan

DiengPOS – Dataran tinggi Dieng begitu akrab ditelinga kita. Apalagi bagi para pecinta wisata alam. Bukan karena megahnya banngunan, melainkan keaslian alam sebagai daya tariknya.

Bagi pecinta wisata alam, Tentu Dieng menyimpan banyak memori dan misteri. Memori, karena keindahan alamnya membuat anda yang mengunjunginya menyimpan banyak kenangan. Misteri, tentunya karena dibalik alam wisata Dieng, tersimpan sejarah yang melegenda di masyarakat.

Telaga dengan mitosnya, kawah dengan istilahnya, maupun candi dengan sisi sejarahnya. Dan banyak lagi yang harus di ungkap dari Dieng ini. Belum lagi saat anda terjebak di atas awan. Serrem, tapi WE OO WE banget rasanya. Oh ya, masih satu lagi. Yaitu seorang Pertapa dengan sabdanya yang jadi misteri. Hemmm.

Tidak ada yang menampik, jika Dieng dijuluki Negeri di Atas Awan. Faktanya, setiap bukit di Dieng tampak berkabut di sore hari. Apalagi saat musim penghujan. Kabut makin pekat, membuat pengunjung sedikit meraba-raba saat memasuki kawasan Dataran tinggi Dieng. Dan fakta itu diperkuat ketika anda sampai di puncak bukit Sikunir, Prau, dan spot-spot pendakian yg lain. Disana akan anda rasakan betul sensasi awan-nya. Layaknya hidup di Negeri Awan.

Baru-baru ini, Anda, pecinta Dieng dikagetkan tragedi lucu menimpa bukit berjuluk Negeri Diatas Awan itu. Betapa tidak. Bukit yang merupakan hulu sungai Serayu itu tertimpa banjir bandang. Tepatnya di Desa Parikesit Kecamatan Kejajajar. Persis di gapura bertuliskan DIENG PLATEAU. Terjadi pada Hari Minggu 26 Februari 2017. Dimana hari itu Wonosobo tengah diguyur hujan selama beberapa hari.

Aneh memang. Tapi bukan tidak mungkin juga. Faktanya demikian.

Kok bisa gunung banjir?

Seperti halnya banjir di yang sering melanda Jakarta dan kota-kota lain. Banjir di Dataran Tinggi Dieng disebabkan air sungai yang meluap dan menggenangi daratan. Namun yang membedakan jika di Jakarta, banjir, disebabkan sungai tidak mampu menampung debet air. Tapi di Dieng, banjir, karena sungai (Serayu) tertutup material longsor yang terjadi di salah satu sisi bukit Perahu.

Tidak ada jaminan bahwa itu banjir terakhir.

Seperti kita tahu, Dieng, yang seharusnya menjadi hutan resapan air, justru disulap menjadi lahan pertanian kentang.

Disampaikan oleh Kepala Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang, Jawa Tengah, Prasetyo Budie Yuwono bahwa Kondisi dataran tinggi diperparah dengan minimnya pepohonan. Pepohonan yang ada untuk menahan tanah banyak yang sudah habis ditebang.

Memang tidak dipungkiri, bahwa kentang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Dieng. Akan tetapi sedianya, hal itu juga harus diimbangi penanaman pohon penyangga tanah.

“Meski kentang jadi pertanian masyarakat Dieng, harus diimbangi dengan konservasi tanah dan air. Ini penting agar Hal longsor dan banjir tidak lagi jadi ancaman,”

Seiring ramainya pengunjung di Dieng, kebutuhan akan fasilitas bangunan seperti penginapan, warung-warung dan bangunan lain pun meningkat. Dan sampah akan berbanding lurus dengan jumlah manusianya. Menjadi tanggungjawab bersama, menjaga kelestarian alam Dieng. Termasuk fungsi daerah aliran sungai (DAS) Serayu butuh perhatian serius. Biarkan DAS Serayu sebagai resapan. Jangan malah dipersempit dengan bangunan-bangunan.

Kata Prasetyo, kini pihaknya mengajak Balai Besar Wilayah Sungai untuk melakkukan pengecekan DAS Serayu secara rutin. Menurutnya, bangunan yang menghambat DAS Serayu akan dibongkar.

” Jika ada bangunan di DAS,kami sudah minta dibongkar saja,” tegasnya.

(Ar7)