Pemuda Asal Garung WonosoboMemilih Jualan Tembakau Untuk Lestarikan Kearifan Lokal

Pemuda Asal Garung WonosoboMemilih Jualan Tembakau Untuk Lestarikan Kearifan Lokal

DIENGPOS – Wonosobo, Modernisasi, dengan segala kemewahaannya tidak membuat Ulin Nuha, pemuda asli Desa Siwuran, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo ini larut di dalamnya. Bahkan, di masa mudanya ia sebagai Alumni Pelajar SMA Muhammadiyah Wonosobo yang saat ini sedang menjalani studi Ilmu Komunikasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, memilih tetap melestarikan budaya-budaya lokal yang ada. Ia memilih menjual Mbako (Tembakau) asli olahan ayahnya sendiri di pasar Induk Wonosobo.

Ide tersebut muncul saat ia duduk di kelas dua SMA, ketika ia melihat ayahnya memanen tembakau. Menurut pengakuannya, sebagai petani tembakau, ayahnya biasa mengolah daun tembakau dari merajangnya, mencampurnya dengan gula, memadatkan tembakau, nganjang (proses menata rajangan tembakau pada satu tempat yang dinamakan irig), menjemur, pengembunan, dan yang terakhir menjualnya dalam keadaan tembakau jadi.

Pada awalnya, hasil tembakau olahan ayahnya digunakan sebagai konsumsi pribadi. Namun saat ayahnya memiliki niatan untuk mengurangi rokok lintingannya, produksi tembakau jadi semakin menumpuk di rumahnya. Padahal, semakin lama tembakau batangan disimpan, rasanya akan semakin enak.

“Ya waktu itu saya berfikir untuk memanfaatkan tembakau bapak. Karena banyak, terus lumayan juga. Tapi memang saat jualan di pasar Induk, sebelahnya simbah-simbah semua. Tidak ada anak mudanya. Tapi saya tidak malu, karena dari situ saya dapat uang tambahan jajan,” Jelas Ulin saat ditemui di D’Kandhang, salah satu warung kopi yang letaknya tidak jauh dari Kampusnya, Sabtu (08/04) malam.

Ia mengaku menjual tembakaunya tidak hanya kepada simbah-simbah. Mengingat pengunjung dan pengonsumsi tembakau tradisional biasanya hanya simbah-simbah yang sudah sangat sepuh (berumur). Biasanya anak muda akan malu apabila mengonsumsi rokok lintingan. Namun Ulin diam-diam memiliki misi untuk tetap menanamkan kecintaan produk tembakau lokal kepada anak muda sekitar terutama teman sekolahnya.

“Biasane cok padha isin nek da adhol mbako. Tapi, kancane nyong akeh akhire seng da udud lintingan. Tak kon da tuku mbako pas nyong adol mbako. Iki buktine,” Jelas Ulin menggunakan bahasa khas Wonosobonya, sambil menunjukan foto teman-teman yang sedang membuat dan merokok lintingan. Ia mengaku konstruk yang terjadi di kalangan pemuda ialah mudah mengikuti trend yang ada. Apalagi, jika sesuatu produk dipakai oleh anak orang kaya yang notabene menjadi cerminan di kalangan pemuda.

“Misale, ana cah siji sek anggo sendal melly. Padahal sendal mellyne elek. Tapi dinggo anake wong sugih. Yo mesti engko do tiru. Njuk nganggep sendal kuwi apik. Podo koyo konsumsi mbako kui,” Jelasnya lagi saat menceritakan bagaimana ia ingin anak muda di sekitar rumahnya tetap melestarikan budaya-budaya lokal seperti mengonsumsi tembakau produk lokal.

Saat jualan tembakau di pasar, omset yang di dapat setiap hari apabila pasarnya ramai sebanyak Rp. 250.000,-. Biasanya, ia memilih berjualan setiap sabtu atau minggu di saat libur sekolah. Namun menurutnya lagi, ia berhenti berjualan tembakau saat semester 2 kelas 3 SMA. Setelah ia meneruskan studinya ke UIN Yogyakarta, ayahnya memilih untuk menjual tembakau yang belum diolah sama sekali.

Namun Ulin tetap berharap bahwa anak-anak muda di sekitar rumahnya bisa tetap melestarikan kearifan lokalnya. “Mengonsumsi dan menjual tembakau lokal salah satu bentuk pelestarian kearifan lokal. Karena sudah jarang sekali di jaman sekarang yang mau mengonsumsi tembakau sendiri. Jangankan jualan tembakau lokal, ngonsumsi saja sudah jarang. Kebanyakan yang melestarikan malah simbah-simbah. Nah kalau pemudanya tidak melestarikan, ya lama-lama tembakau lokal akan hilang,” Imbuhnya menggunakan bahasa Indonesia. (tri)

Tri Muryani

Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta