Penyebaran virus corona atau covid-19 yang tak kunjung mereda dan sulitnya pengendalian, hampir 6 bulan terakhir, sangat memberikan dampak pada berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan yang menerapkan berbagai paket kebijakan termasuk belajar dari rumah atau secara daring guna mencegah dan memutus rantai penularan virus corona.


Baru-baru ini, pemerintah mewacanakan dan mengkaji tentang new normal atau tatanan kehidupan baru yang hidup secara berdampingan dengan virus, peralihan cara pembelajaran yang semula dirumahkan kembali belajar tatap muka di sekolah, memaksa berbagai pihak untuk turut serta mengikuti alur yang sekiranya dapat ditempuh agar proses belajar-mengajar dan bimbingan tetap berlangsung.


Pembelajarn daring dari sekian bulan selama masa pandemic covid-19 bukan tanpa masalah, kurangnya pengawasan peserta didik akibat keterbatasan pada jumlah guru yang ada di sekolah, kemampuan ekonomi dan kondisi geografis peserta didik, kurangnya dukungan dan lemahnya pengawasan orang tua mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi kurang efektif.


Data-data yang diketahui saat ini, realitasnya Indonesia akan melakukan kebijakan new normal ketika wabah pandemi masih mengalami kasus kenaikan yang terinfeksi covid-19, berbeda dengan negara lain yang melaksanakan hal yang sama sudah menunjukkan grafik turunnya kasus infeksi virus covid-19. Hal ini, pemerintah perlu mempertimbangan kembali dari akibat yang mungkin saja timbul dari kebijakan tersebut. Khususnya kebijakan pada sector pendidikan yang akan dilaksanakan pada satuan pendidikan.


Sekalipun dengan protokol kesehatan yang ketat, banyak pihak yang mengecam dan mengkritik serta menimbulkan kekhawatiran bagi guru maupun orang tua terhadap kesehatan peserta didik selama belajar di sekolah, sebab itu sekolah dalam hal ini guru perlu kerja keras dan disiplin menanamkan nilai budaya baru kepada peserta didiknya, serta dapat memberikan jaminan kesehatan selama berada di sekolah.


Orang tua/ wali tidak kalah penting dalam pengawasan dan bimbingan kepada anak-anaknya dalam menghadapi kebijakan new normal, hal itu dapat dilakukan dengan kerja sama antara guru dan orang tua siswa.


Jika pemerintah benar-benar mengimplmentasikan kebijakan new normal, usaha yang dapat dilakukan pihak sekolah, menanamkan budaya baru kepada siswa, menjalin kerja sama dengan dinas kesehatan, sosialisasi dan meminta dukungan dengan orangtua peserta didik dan komite, memenuhi sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan new normal, membersihkan lingkungan sekolah dengan desinfektan, melaksanakan shif dan roster jadwal pembelajaran agar menghindari kerumunan, dan lainnya yang sekiranya mendukung kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.


Berbagai pihak perlu kerja keras dan gotong-royong dalam melaksanakan strategi dan imlementasi new normal. Sehingga peserta didik sebagai asset bangsa tidak dijadikan sebagai kelinci percobaan dan mengorbankan generasi penerus bangsa.


Memantangkan persiapan pembukaan sekolah, implementasi kebijakan dibuat secara hati-hati dan secermat mungkin. Peserta didik harus menjadi prioritas dan pertimbangan yang pertama untuk mendapatkan jaminan pendidikan secara aman, nyaman, dan sehat.

Tomy MA
Mahasiswa S-2 UNNES Semarang