Presiden Joko Widodo Cium Tangan Veteran TNI Sekaligus Ulama Mantan Tentara Hizbulah & Sabililah

Presiden Joko Widodo Cium Tangan Veteran TNI Sekaligus Ulama Mantan Tentara Hizbulah & Sabililah

Presiden Joko Widodo Cium Tangan Veteran TNI Sekaligus Ulama Mantan Tentara Hizbulah & Sabililah

DiengPOS – Ada momen cukup mengharukan pada acara HUT TNI ke-72, Presiden Joko Widodo kedapatan mencium tangan salah satu tamu istimewa. Beliau adalah KH. Sholeh Qosim atau akrab dipanggil Abah Sholeh.

Abah Sholeh yang merupakan pengasuh pondok pesantren Bahauddin-Sepanjang-Sidoarjo ini pada masa lalu merupakan salah satu prajurit Sabilillah pimpinan Ky. Masykur yang beroperasi di Jawa Timur.

Presiden Joko Widodo Cium Tangan Veteran TNI Sekaligus Ulama Mantan Tentara Hizbulah & Sabililah

Bahkan pada peristiwa 10 November di Surabaya beliau juga termasuk salah satu dari barisan para kyai-santri yang terhimpin dalam laskar Hizbullah yang peranannya bagi Negara baru secara gamblang diungkap setelah era orde baru tumbang.

Tanggal 5 Oktober merupakan hari angkatan bersenjata bagi Bangsa Indonesia. Bermula dibentuk dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atas instruksi Presiden Sukarno. Peran TNI dengan berbagai dinamikanya tidak bisa terlepas dari sejarah bangsa ini.

Hal yang jarang diketahu publik yakni dalam rangka pembentukan angkatan bersenjata, tidak lepas dari peran ulama di negeri ini. Kali ini, kita hanya menampilkan tiga figur saja, diantara ribuan yang sebenarnya berperan termasuk Abah Sholeh tentunya.

Pertama, tentu kita tidak asing lagi dengan sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman. Beliau adalah sosok Jenderal relijius yang luar biasa. Diangkat sebagai Jenderal saat usia 29 tahun. Dan dengan kondisi beliau sakit parah, harus bergerilya untuk memimpin pasukan, demi kedaulatan Negara Indonesia.

Beliau dikabarkan sangat dekat dengan rakyat, tidak pernah mengeluh, dan tetap berusaha untuk istiqomah dalam perjuangannya. Peran serta beliau dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 sungguh luar biasa besarnya. Mengkondisikan serangan serentak dari seluruh wilayah bantuan Belanda sehingga menghambat laju tentara belanda dan berhasil membuka mata dunia, bahwa “INDONESIA MASIH ADA”.

Peristiwa ini menimbulkan kecaman dunia internasional, dan berakhir dengan manis, yakni pengakuan kedaulatan Indonesia. Belum sempat menikmati masa damai, beliau harus berpulang, menyongsong haribaan Ilahi

Kedua, adalah sosok Yang Mulia Simbah Kyai Haji Machrus Aly Lirboyo Kediri. Sosok yang luar biasa berkharisma ini tentu lebih dikenal sebagai begawan ilmu agama yang jarang ada tandingannya. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini begitu dicintai oleh seluruh santri dan masyarakat karena terbukti berkhidmah tanpa syarat.

Tidak banyak yang tahu bahwa beliau salah satu pengawal NKRI sejati. Beliau turut berperan menginstruksikan pelucutan Tentara Jepang di Surabaya dan mengomando 97 santri Lirboyo untuk bertempur melawan Sekutu dalam peristiwa 10 November.

Beliau berprinsip untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai hingga titik darah penghabisan. Inilah yang di kemudian hari menjadi embrio Kodam Brawijaya, penjaga keutuhan NKRI di Jawa Timur. Sehingga tidak heran jika beliau begitu dihormati oleh kalangan militer. Istiqomah beliau sungguh luar biasa. Beliau mengambil jalan tetep berada di pesantren untuk mengawal keilmuan agama. Tidak terbersit untuk menggayuh kekuasaan.

Ketiga, adalah Singa Karawang- Bekasi. Siapa lagi jika bukan Yang Mulia Simbah Kyai Haji Nur Ali. Adalah sesuatu yang aneh jika mengaku sebagai orang Karawang- Bekasi jika tidak mengenal sosok yang luar biasa ini. Pendiri Pondok Pesantren At-Taqwa Bekasi adalah seorang tokoh kharismatik yang tidak diragukan lagi pengabdiannya untuk NKRI.

Pada saat Perang kemerdekaan, beliau berangkat ke Yogyakarta dan ditemui oleh Jenderal Urip Sumoharjo, sebab Jenderal Sudirman sedang tidak ada di tempat. Keadaan negeri dalam kondisi genting. Beliau diminta untuk membentuk pasukan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia namun tidak di wadah TKR.

Beliau akhirnya membentuk Tentara Hizbullah-Sabilillah dan bersama KH.Ma’mun Nawawi Cibogo Bekasi berkali-kali berhasil memporak-porandakan pasukan Belanda melalui taktik Perang Gerilya. Beliau pulalah yang melindungi kelompok orang-orang Kristen yang hendak dibantai oleh pasukan Belanda. Beliau pulalah yang berinsiatif mengibarkan ribuan bendera merah-putih sehingga membuat Belanda marah besar.

Atas perjuangan beliau yang luar biasa, beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006.

Jelas tergambar betapa besarnya peranan dan pengorbanan para Ulama terdahulu dalam upaya merebut serta mempertahankan kemerdekaan NKRI. Mungkin itulah yang menjadi alasan utama Presiden Joko Widodo mencium tangan Abah Sholeh.

(An)